Untung jualan itu gampangnya begini: semua uang yang masuk dari jualan, dikurangi semua yang kamu keluarkan buat jualan itu. Makanya cara menghitung keuntungan jualan selalu lewat tiga angka yang sama — berapa yang laku, berapa modal barang yang laku, dan berapa biaya yang kamu bayar tiap bulan.
Biasanya kamu nyampe ke sini bukan karena penasaran sama rumus. Tapi karena akhir bulan uangnya tipis padahal jualan kelihatan rame; atau uang usaha kepakai buat belanja rumah tanpa kerasa; atau ada yang nanya "usahamu untung berapa sebulan?" dan kamu ngga bisa jawab pakai angka.
Kabar baiknya, rumusnya cuma tiga baris dan ngga ada yang susah. Kabar kurang enaknya, rumus itu cuma sebagus angka yang kamu masukin ke dalamnya. Jadi di sini kita kerjain dua-duanya: rumusnya apa, dan angkanya kamu ambil dari mana.
Yang kamu dapet di halaman ini: tiga rumus yang beneran kepake, satu contoh hitungan sebulan dari omzet sampai laba bersih, cara ngitung untung per porsi, dan tabel bulanan yang bisa langsung kamu contek.
01. Kenapa Untungnya Berasa Ada Tapi Uangnya Ngga Kelihatan
Hampir semua owner pernah di posisi ini: bulannya rame, dagangan keluar terus, tapi pas dicek isi laci atau isi rekening, uangnya ngga sebanyak yang dibayangin. Rasanya kayak ada yang bocor, tapi ngga tahu di mana.
Tiga situasi ini yang paling sering bikin orang nyari cara ngitung untung:
- Akhir bulan uangnya tipis padahal jualan lagi bagus, dan kamu ngga tahu itu wajar atau tanda bahaya.
- Uang usaha dan uang pribadi masih satu dompet, jadi ngga jelas mana untung dan mana sisa belanja.
- Ada supplier, keluarga, atau bank yang nanya "sebulan untungnya berapa?" — dan kamu cuma bisa jawab kira-kira.
Yang bikin ini kejadian bukan karena kamu ngga bisa matematika. Penyebabnya lebih sederhana: angka yang kamu pakai buat ngitung belum bisa dipercaya. Penjualan ngga dicatat semuanya, stok ngga pernah dihitung ulang, dan uang usaha campur uang rumah. Rumus sebagus apa pun kalau isinya tebakan, hasilnya juga tebakan.
Jadi urutan yang bener bukan "cari rumus dulu", tapi "rapihin angkanya dulu, baru masukin ke rumus". Sisa halaman ini ngikutin urutan itu.
02. Untung Itu Apa Dan Bedanya Laba Kotor Sama Laba Bersih
Sebelum ngitung, samain dulu satu hal. Untung = uang yang masuk dari jualan, dikurangi semua yang kamu keluarkan buat jualan itu. Satu kalimat, ngga usah dibikin ribet.
Yang bikin bingung biasanya karena "untung" itu sebenarnya ada dua tingkat, dan orang sering ketuker.
| Istilah | Bahasa gampangnya | Jawab pertanyaan apa |
|---|---|---|
| Laba kotor | Sisa setelah modal barang yang laku dipotong | Barangku dijual cukup mahal ngga? |
| Laba bersih | Sisa setelah semua biaya bulanan dipotong | Usahaku beneran untung ngga? |
Laba kotor itu untung di tingkat barang. Laba bersih itu untung di tingkat usaha — dan cuma laba bersih yang beneran layak kamu sebut "untung". Banyak usaha punya laba kotor gede tapi laba bersihnya tipis, karena sewa dan gaji makan hampir semuanya.
kalau kamu cuma sempat hafal satu angka, hafalin laba bersih. Itu angka yang nentuin usahamu bisa jalan terus apa ngga.
03. Rumus Dan Cara Menghitung Keuntungan Jualan Yang Beneran Kepake
Cuma ada tiga rumus yang perlu kamu simpan. Sisanya turunan dari sini.
| Rumus | Isinya | Hasilnya |
|---|---|---|
| Omzet = harga jual × jumlah yang laku | Semua penjualan bulan itu | Penjualan kotor |
| Laba kotor = penjualan bersih − HPP | Omzet dikurangi modal barang yang laku | Untung per barang |
| Laba bersih = laba kotor − biaya operasional | Semua biaya jalanin usaha | Untung beneran |
Kalau kamu mau angkanya dalam persen — dan ini yang sering dicari — rumusnya cuma bagi lalu kali seratus:
- Margin laba kotor = laba kotor ÷ penjualan bersih × 100
- Margin laba bersih = laba bersih ÷ penjualan bersih × 100
- Persentase untung dari modal = untung ÷ modal × 100
Perhatiin bedanya baris terakhir: pembaginya modal, bukan penjualan. Dua-duanya bener, tapi hasilnya beda jauh, dan ini sumber ribut nomor satu waktu orang bandingin untung. Nanti kita lihat contohnya di bagian per produk.
👉 Mau langsung lihat angkanya jalan? Loncat ke contoh hitungan sebulan.
04. Hitung Omzet Dulu, Angka Yang Paling Sering Keliru
Kenapa ini duluan: omzet itu fondasinya. Kalau omzetnya salah, semua angka di bawahnya ikut salah, dan kamu ngga akan pernah tahu.
Rumusnya gampang — harga jual dikali jumlah barang yang laku, dijumlahin buat semua produk selama sebulan. Yang susah itu ngambil angkanya. Dua kesalahan ini yang paling sering:
Pertama, ngitung uang yang diterima, bukan penjualan yang terjadi. Kalau ada pelanggan yang ambil barang sekarang bayar minggu depan, atau uang dari marketplace baru cair beberapa hari kemudian, penjualannya tetap masuk bulan ini. Uangnya belum di tangan, tapi jualannya udah kejadian.
Kedua, uang usaha campur uang pribadi. Kalau uang jualan langsung kepakai buat belanja dapur rumah, ngga akan pernah ketahuan berapa yang beneran masuk dari jualan.
selama uang usaha dan uang pribadi masih satu dompet atau satu rekening, angka omzetmu ngga bisa dipercaya — dan ngga ada cara ngitung untung yang bisa nutupin itu. Pisahin rekeningnya dulu.
Ambil angkanya dari mana? Dari catatan penjualan harian: struk kasir, nota, atau rekap manual yang kamu tulis tiap tutup toko. Kalau kamu belum punya kebiasaan itu, mulai dari yang paling sederhana — buku kas harian — lalu naik ke cara mulai pembukuan sederhana begitu transaksinya makin banyak.
05. Hitung HPP, Modal Barang Yang Benar-Benar Terjual
Ini bagian yang paling sering bikin angka untung meleset jauh, dan alasannya satu: orang masukin semua belanja bulan itu sebagai modal.
HPP (harga pokok penjualan) itu modal dari barang yang laku, bukan semua barang yang kamu beli. Kalau kamu belanja stok banyak di awal bulan buat persiapan, sebagian besarnya masih nganggur di gudang — itu belum jadi modal yang bisa dipotong dari penjualan.
Cara ngambil angkanya, pakai stok:
- Catat nilai stok di awal bulan.
- Tambahin semua pembelian barang selama bulan itu.
- Kurangi nilai stok yang masih sisa di akhir bulan.
- Hasilnya = HPP, alias modal barang yang laku.
Buat usaha makanan, HPP-nya isinya bahan baku plus kemasan yang kepake. Buat toko, HPP-nya modal barang yang terjual. Bahasan lengkapnya — termasuk kalau kamu produksi sendiri — ada di cara menghitung HPP lengkap.
hitung ulang stok minimal sebulan sekali, di tanggal yang sama. Tanpa hitung stok, HPP-mu cuma perkiraan, dan untungnya ikut jadi perkiraan.
06. Kurangi Biaya Operasional Yang Sering Kelupaan
Setelah laba kotor ketemu, sisanya masih harus nanggung semua biaya jalanin usaha. Bagian ini paling sering dipotong setengah-setengah — orang inget sewa dan gaji, terus lupa sisanya, dan untungnya jadi kelihatan lebih gede dari aslinya.
Ini daftar yang perlu kamu cek satu-satu tiap bulan:
- ✅ Sewa tempat atau lapak
- ✅ Listrik, air, dan gas
- ✅ Gaji karyawan dan upah harian
- ✅ Transport, bensin, dan ongkos kirim
- ✅ Kemasan, kantong, dan perlengkapan habis pakai
- ✅ Biaya marketplace dan potongan pembayaran digital
- ✅ Pulsa, internet, dan langganan aplikasi
- ✅ Perbaikan alat dan penyusutan alat yang kepakai
Penyusutan yang paling sering dilewatin. Kompor, kulkas, etalase, atau motor yang kamu pakai buat jualan itu nilainya turun tiap bulan dan suatu saat harus diganti. Kalau ngga pernah dihitung, untungmu kelihatan bagus sampai alatnya rusak dan kamu kaget ngga punya uang buat gantinya.
07. Contoh Hitungan Sebulan Dari Omzet Sampai Laba Bersih
Sekarang kita satuin semuanya. Ini contoh, angka ilustrasi — bukan data pelanggan, bukan patokan pasar. Anggap sebuah warung makan yang jual satu jenis menu makan siang selama sebulan.
| Baris | Hitungannya | Jumlah |
|---|---|---|
| Omzet | 1.500 porsi × Rp18.000 | Rp27.000.000 |
| Potongan dan retur | dikurangi | Rp500.000 |
| Penjualan bersih | Rp27.000.000 − Rp500.000 | Rp26.500.000 |
| HPP bahan yang laku | Rp3.000.000 + Rp12.000.000 − Rp3.100.000 | Rp11.900.000 |
| Laba kotor | Rp26.500.000 − Rp11.900.000 | Rp14.600.000 |
| Biaya operasional | contoh, rincian di bawah | Rp10.100.000 |
| Laba bersih | Rp14.600.000 − Rp10.100.000 | Rp4.500.000 |
Baris HPP-nya dibaca begini: stok bahan awal bulan Rp3.000.000, belanja bahan sebulan Rp12.000.000, sisa stok akhir bulan Rp3.100.000 — jadi bahan yang beneran kepake dan laku senilai Rp11.900.000.
Rincian biaya operasionalnya, masih contoh ilustrasi:
| Biaya bulanan | Jumlah |
|---|---|
| Sewa tempat | Rp2.500.000 |
| Listrik, air, gas | Rp1.400.000 |
| Gaji 2 karyawan | Rp4.000.000 |
| Transport dan bensin | Rp600.000 |
| Internet dan aplikasi | Rp300.000 |
| Potongan aplikasi pesan-antar | Rp900.000 |
| Perbaikan dan penyusutan alat | Rp400.000 |
| Total | Rp10.100.000 |
Jadi warung ini untung Rp4.500.000 sebulan, bukan Rp14.600.000 seperti yang kelihatan di laba kotor, dan jelas bukan Rp27.000.000 seperti yang biasa disebut orang waktu ditanya "sebulan dapet berapa". Kalau dipersenin: margin laba kotor 55%, margin laba bersih 17%.
Susunan tujuh baris di atas itu sebenarnya bentuk sederhana dari laporan laba rugi. Begitu kamu terbiasa ngisinya tiap bulan, kamu udah punya laporan yang bisa ditunjukin ke siapa pun.
08. Cara Hitung Untung Per Produk Dan Per Porsi
Angka bulanan bagus buat lihat kondisi usaha, tapi ngga jawab pertanyaan "produk mana yang paling nguntungin". Buat itu kamu perlu turun ke satu barang atau satu porsi, dan ini dikerjain manual atau di spreadsheet.
Caranya: hitung modal satu porsi — bahan baku plus kemasan — lalu kurangin dari harga jualnya.
Contoh, angka ilustrasi: harga jualnya Rp18.000 per porsi, modal bahannya Rp7.900, jadi untung kotor per porsi = Rp18.000 − Rp7.900 = Rp10.100.
Nah, sekarang bagian yang sering bikin salah paham. Untung Rp10.100 di contoh ilustrasi tadi bisa disebut pakai dua persentase yang beda:
- Dari harga jual: Rp10.100 ÷ Rp18.000 × 100 = 56%
- Dari modal: Rp10.100 ÷ Rp7.900 × 100 = 128%
Dua-duanya bener, cuma pembaginya beda. Waktu orang bilang "untungnya 100%", biasanya maksudnya dari modal; waktu laporan bilang "margin 56%", itu dari penjualan. Pastiin kamu tahu lagi ngomongin yang mana.
untung kotor per porsi belum untung beneran. Sewa, listrik, dan gaji belum dipotong dari situ — itu semua baru ketemu di hitungan bulanan.
09. Berapa Persen Untung Yang Pas Buat Usahamu
Ini pertanyaan yang paling sering ditanya, dan jawaban jujurnya: ngga ada angka ajaib yang berlaku buat semua usaha. Warung makan, toko kelontong, dan jualan baju punya struktur biaya yang beda jauh, jadi persen yang sehat buat satu usaha bisa bikin rugi di usaha lain.
Yang jauh lebih berguna: hitung batas bawahnya sendiri, dari angkamu sendiri. Rumusnya satu baris.
Margin minimal = total biaya operasional sebulan ÷ target omzet sebulan × 100
Contoh, masih ilustrasi yang sama: total biaya bulanannya Rp10.100.000 dan target omzet sebulan Rp26.500.000. Berarti margin laba kotor kamu minimal harus 38% — di bawah itu, kamu kerja sebulan penuh dan pulang tanpa untung.
Angka 38% itu batas impas, bukan target. Target kamu ada di atasnya, dan selisihnya itulah untung yang kamu bawa pulang. Enaknya cara ini, hasilnya pasti nyambung sama usahamu — karena bahannya biaya kamu sendiri.
10. Tabel Hitung Untung Bulanan Yang Bisa Kamu Contek
Ini bagian yang bisa langsung kamu pakai. Salin tabel di bawah ke buku, Excel, atau Google Sheets, lalu isi tiap akhir bulan. Sepuluh menit sebulan, dan kamu ngga perlu nebak lagi.
| Baris | Cara ngisinya | Punya kamu |
|---|---|---|
| Omzet | Total semua penjualan bulan ini | |
| Potongan dan retur | Diskon dan barang yang balik | |
| Penjualan bersih | Omzet dikurangi potongan | |
| Stok awal | Nilai stok tanggal 1 | |
| Pembelian | Semua belanja barang bulan ini | |
| Stok akhir | Nilai stok tanggal terakhir | |
| HPP | Stok awal + pembelian − stok akhir | |
| Laba kotor | Penjualan bersih − HPP | |
| Biaya operasional | Total dari checklist biaya | |
| Laba bersih | Laba kotor − biaya operasional | |
| Margin laba bersih | Laba bersih ÷ penjualan bersih × 100 |
Isi tiga bulan berturut-turut, terus sandingin. Tren tiga bulan jauh lebih jujur dibanding satu bulan — satu bulan bisa kebetulan bagus atau kebetulan jelek, tiga bulan ngga bisa bohong.
simpan tabel ini di tanggal yang sama tiap bulan, misalnya tanggal 1. Konsistensi tanggalnya lebih penting ketimbang kerapian tabelnya.
11. Kesalahan Yang Bikin Angka Untungmu Bohong
Empat hal ini yang paling sering bikin hasil hitungan kelihatan bagus padahal usahanya lagi seret.
Uang usaha campur uang pribadi. Sekali dua kali ambil dari laci buat keperluan rumah rasanya kecil. Setahun kemudian kamu ngga bisa jawab usahanya ngasih untung berapa, karena catatannya udah bercampur dari awal.
Semua belanja dianggap HPP. Kalau seluruh pembelian bulan ini kamu potong dari penjualan, bulan belanja besar bakal kelihatan rugi dan bulan berikutnya kelihatan untung besar — padahal usahanya jalan biasa aja.
Gaji kamu sendiri ngga dihitung. Kalau kamu kerja tiap hari di usaha itu dan ngga pernah masukin upahmu sebagai biaya, "untung" yang kelihatan sebenarnya sebagian adalah gajimu yang belum diakui. Masukin angkanya, walau kecil.
Untung disamain sama saldo rekening. Saldo bisa gede karena kamu belum bayar supplier, atau tipis karena baru belanja stok. Untung dan uang di tangan itu dua hal beda — bedanya dijelasin di laporan arus kas.
Kalau empat ini beres, angka untungmu udah lebih jujur ketimbang kebanyakan usaha seukuran usahamu.
Untung Kehitung Tiap Hari, Bukan Pas Akhir Bulan
- ✓Jualan di kasir langsung masuk pembukuan — ngga usah nyatet dua kali
- ✓Laba rugi dan arus kas tersusun otomatis, tinggal cetak atau ekspor
- ✓Stok dan biaya kecatat dari transaksi yang sama, bisa dicek dari HP
12. Biar Untung Kehitung Tiap Hari, Bukan Pas Akhir Bulan
Sampai sini kamu udah punya semuanya: rumusnya, sumber angkanya, contohnya, dan tabelnya. Yang berat bukan hitungannya — tapi ngumpulin angkanya tiap hari, konsisten, sambil kamu tetap ngurus jualan.
Itu bagian yang bisa dilepas ke sistem. Di Niagawan, penjualan yang kamu catat di kasir langsung masuk ke pembukuan — ngga usah nyatet dua kali. Belanja dan biaya kamu catat sekali di tempat yang sama, dan stok ikut kecatat dari transaksi yang sama.
Hasilnya: laporan laba rugi dan arus kas kesusun sendiri dari catatan itu, siap dicetak atau diekspor kapan pun kamu butuh — pas ditanya supplier, pas mau ajukan modal, atau pas kamu cuma pengen tahu bulan ini untung berapa. Semuanya bisa kamu cek dari HP.
Kalau kamu udah capek nebak-nebak, lihat software akuntansi untuk usaha kecil dan cocokin sama usahamu.
Cara menghitung keuntungan jualan itu ngga susah. Yang susah cuma disiplin nyatetnya — dan itu justru bagian yang paling gampang dibantu.
Pertanyaan Yang Sering Ditanya (FAQ)
Bagaimana Cara Menghitung Keuntungan?
Kurangi penjualan bersihmu dengan modal barang yang laku (HPP) buat dapet laba kotor, lalu kurangi lagi dengan seluruh biaya operasional bulan itu buat dapet laba bersih. Laba bersih itulah untung yang beneran kamu bawa pulang.
Bagaimana Rumus Menghitung Harga Jual?
Harga jual dihitung dari modal per unit ditambah margin yang kamu targetin, jadi urutannya selalu hitung modal dulu baru tentukan harga. Contoh: kalau modalnya Rp7.900 dan kamu mau margin 55%, hitungannya Rp7.900 ÷ 0,45 = sekitar Rp17.600. Cara ngitung modal per unitnya ada lengkap di cara menghitung HPP lengkap.
Berapa Persen Ambil Untung Jualan?
Ngga ada persentase tunggal yang cocok buat semua usaha, karena struktur biaya tiap usaha beda. Hitung batas bawahmu sendiri: total biaya operasional sebulan dibagi target omzet sebulan, dikali 100 — itu margin minimal supaya kamu ngga rugi, dan targetmu ada di atas angka itu.
Berapa Persen Ambil Untung Jualan Makanan?
Sama caranya: pakai biaya bulananmu sendiri, jangan pakai patokan orang lain. Usaha makanan punya bahan yang gampang basi dan porsi yang kebuang, jadi masukin juga bahan terbuang itu ke dalam modal supaya marginnya realistis.
Apa Bedanya Omzet, Laba Kotor, Dan Laba Bersih?
Omzet adalah seluruh nilai penjualan sebelum dipotong apa pun. Laba kotor adalah sisa setelah modal barang yang laku dipotong, dan laba bersih adalah sisa setelah semua biaya bulanan ikut dipotong. Cuma laba bersih yang layak disebut untung.
Untung Ke Ngga Sih Usahaku?
Kamu bisa jawab itu begitu tiga angka ini ketemu untuk bulan yang sama: penjualan bersih, HPP, dan total biaya operasional. Kalau sisanya positif berarti untung, kalau minus berarti rugi — ulangi tiga bulan berturut-turut supaya kelihatan trennya.
Untungnya Ada Tapi Kok Uangnya Ngga Ada?
Biasanya karena untungmu lagi nyangkut di tempat lain: numpuk jadi stok, ketahan di pelanggan yang belum bayar, atau kepakai buat bayar cicilan dan ambilan pribadi. Untung dan uang tunai memang dua hal berbeda, dan cara nelusurinya dijelasin di untung ada tapi uang ngga ada.
Cara Menghitung Keuntungan Jualan Online Gimana?
Rumusnya sama persis, cuma daftar biayanya lebih panjang. Masukin ongkos kirim yang kamu tanggung, potongan marketplace, biaya iklan, dan biaya kemasan ke dalam biaya operasional — kalau semuanya dilewatin, margin jualan online kelihatan jauh lebih besar dibanding aslinya.