Delivery order (DO) adalah surat perintah dari penjual ke bagian gudang untuk mengeluarkan barang dan mengirimkannya ke pembeli. Isinya cuma tiga hal: barang apa, berapa banyak, dan dikirim ke mana. Tidak ada harga di dalamnya — harga itu urusan invoice.
Contohnya semudah ini: pembeli pesan 25 karung beras → kamu terbitkan DO → gudang baca DO itu, siapkan 25 karung, barang jalan → penerima tanda tangan. Cuma itu isinya. Sisa halaman ini tinggal contoh, format, dan cara mengisinya.
⚡ Mau langsung pakai?
Sebelum lanjut — kamu lagi cari DO yang mana? Istilah ini dipakai untuk dua hal berbeda:
- DO untuk usaha sendiri (gudang → pembeli) — surat perintah keluarkan barang. Ini yang dibahas di halaman ini, dan ini yang dipakai toko, distributor, dan usaha dagang.
- DO di pelabuhan (impor) — surat pelepasan kargo dari perusahaan pelayaran supaya kamu bisa ambil barang di terminal. Beda dokumen, beda penerbit. Dibahas singkat di bagian 10.
01. Delivery order itu apa
Delivery order adalah surat perintah pengeluaran barang. Penjual yang membuatnya, gudang yang menjalankannya.
Fungsinya satu: memberi gudang izin resmi untuk mengeluarkan barang. Tanpa DO, orang gudang tidak punya dasar untuk menyerahkan barang ke siapa pun. Kalau barang keluar tanpa dokumen, tidak ada yang bisa menjelaskan barang itu pergi ke mana ketika stok tidak cocok di akhir bulan.
Tiga hal yang membuat DO berbeda dari dokumen lain:
- DO adalah perintah, bukan tagihan. Isinya instruksi, bukan permintaan bayar.
- DO tidak memuat harga. Nama barang, jumlah, satuan, keterangan — selesai. Kalau kamu menaruh harga di DO, orang gudang dan sopir jadi tahu margin usahamu, dan pembeli bisa salah mengira DO sebagai tagihan.
- DO diterbitkan sebelum barang bergerak, bukan sesudah.
Belum tahu dokumen yang datang sebelum DO? Itu purchase order — pesanan dari pembeli, dan isinya yang jadi acuan DO kamu.
“DO” juga sering dipakai sebagai singkatan lisan. Kalau ada yang bilang “DO-nya sudah keluar belum?”, maksudnya surat perintah ini — bukan pesanan pembeli (itu purchase order).
DO duduk di antara pesanan dan pengiriman. Cuma DO dan surat jalan yang tidak memuat harga.
02. Kapan kamu butuh DO, dan kapan cukup surat jalan
Ini pertanyaan yang paling sering bikin bingung, jadi diselesaikan di depan.
Kamu butuh DO kalau yang menyiapkan barang bukan orang yang menerima pesanan. Begitu ada jarak antara “yang terima order” dan “yang ambil barang di rak”, harus ada perintah tertulis di antara keduanya. Itulah DO.
Kamu tidak butuh DO kalau kamu sendiri yang melayani, mengambil barang, dan mengirimnya. Warung atau toko kecil yang pemiliknya menangani semuanya cukup pakai surat jalan saja — DO-nya akan jadi surat kepada diri sendiri.
Satu pertanyaan yang menentukan.
| Situasi usahamu | Butuh DO? | Cukup pakai |
|---|---|---|
| Pemilik melayani sendiri, barang diambil dari rak toko | Tidak | Nota + surat jalan |
| Ada orang gudang terpisah dari yang menerima pesanan | Ya | DO → surat jalan |
| Barang dikirim pakai sopir atau ekspedisi | Ya | DO → surat jalan |
| Gudang beda lokasi dengan toko atau kantor | Ya | DO → surat jalan |
| Pesanan dikirim bertahap, tidak sekali kirim | Ya, per pengiriman | DO per kirim |
03. Beda DO, PO, surat jalan, invoice, dan delivery note
Lima dokumen ini muncul di transaksi yang sama, berurutan. Yang membedakan bukan bentuknya — tapi siapa yang membuat dan kapan dibuat.
| Dokumen | Siapa yang membuat | Kapan | Isi utama | Ada harga? |
|---|---|---|---|---|
| PO (purchase order) | Pembeli | Saat pesan | Barang yang dipesan | Ya, biasanya |
| DO (delivery order) | Penjual | Sebelum barang keluar gudang | Perintah keluarkan barang | Tidak |
| Surat jalan | Penjual | Ikut jalan bersama barang | Barang yang dibawa + alamat | Tidak |
| Delivery note | Penjual | Ikut barang atau sesudahnya | Rincian barang yang diserahkan | Tidak |
| Invoice | Penjual | Setelah barang diterima | Tagihan | Ya |
PO masuk ke kamu. DO keluar dari kamu. Arahnya berlawanan.
Di lapangan istilahnya tidak seragam. Ada usaha yang memakai “DO” dan “surat jalan” untuk dokumen yang sama, dan ada penyedia yang menamai formulirnya “Surat Jalan / Delivery Order” sekaligus. Jadi jangan berdebat soal namanya. Yang menentukan adalah fungsinya: apakah dokumen itu jadi perintah untuk gudang, ikut jalan bersama barang, atau jadi bukti barang sudah diterima.
Tiga catatan yang menjawab kebingungan paling umum:
- PO datang dari pembeli, DO dibuat penjual. Arah dokumennya berlawanan. PO masuk ke kamu, DO keluar dari kamu.
- DO dan surat jalan sering dianggap sama, padahal beda tujuan. DO adalah perintah untuk gudang — arahnya ke dalam. Surat jalan ikut naik ke kendaraan bersama barang — arahnya ke luar, dan yang tanda tangan adalah penerima. Di banyak usaha kecil satu lembar dipakai untuk dua fungsi, dan itu sah — asal kolom tanda tangan penerima ada.
- Delivery note pada praktiknya sama dengan surat jalan. Istilah bahasa Inggris untuk dokumen yang sama; sebagian perusahaan memakainya untuk lampiran rincian barang.
Satu ke dalam, satu ke luar.
Urutan lengkapnya: pembeli kirim PO → kamu terbitkan DO → gudang siapkan barang → surat jalan ikut barang → penerima tanda tangan → kamu terbitkan invoice → pembeli bayar → kamu buat kwitansi.
04. Isi wajib delivery order
Sebuah DO tidak perlu rumit. Tapi kalau salah satu bagian ini hilang, dokumennya jadi tidak berguna saat ada masalah.
| Bagian | Isinya | Kalau tidak ada |
|---|---|---|
| Nomor DO | Nomor urut unik, mis. DO/2026/07/018 | Tidak bisa dilacak saat barang dipertanyakan |
| Tanggal DO | Tanggal perintah diterbitkan | Tidak ketahuan barang keluar kapan |
| Nomor PO | Nomor pesanan pembeli yang dirujuk | Tidak bisa dicocokkan dengan pesanan asli |
| Nama & alamat penerima | Alamat kirim, bukan alamat penagihan | Barang bisa nyasar |
| Kontak penerima | Nama orang + nomor HP | Sopir tidak bisa menghubungi saat sampai |
| Rincian barang | Nama, kode/SKU, jumlah, satuan | Gudang bisa salah ambil |
| Keterangan | Barang mudah pecah, kirim sebagian, dll. | Instruksi khusus terlewat |
| Tanda tangan penerbit | Yang menyetujui pengeluaran barang | Perintahnya tidak sah |
| Tanda tangan penerima | Nama, tanda tangan, cap, tanggal terima | Tidak ada bukti barang sudah sampai |
Bagian 9 adalah alasan dokumen ini dibuat.
Bagian tanda tangan penerima adalah alasan utama dokumen ini dibuat. Kalau nanti pembeli bilang barang tidak pernah sampai, satu-satunya yang menyelamatkan kamu adalah tanda tangan itu. Pastikan nama penanda tangan ditulis jelas, bukan cuma coretan.
Yang tidak perlu ada di DO: harga satuan, subtotal, total, dan potongan harga. Semua itu ada di invoice. Memisahkan keduanya justru gunanya dokumen ini.
05. Contoh delivery order yang sudah diisi
Contoh di bawah memakai usaha yang sama dengan panduan kartu stok di situs ini — Toko Berkah Jaya, Juli 2026 — supaya kalau kamu sudah baca yang lain, ceritanya nyambung.
Pada 12 Juli 2026 warung langganan memesan barang. Toko Berkah Jaya menerbitkan DO berikut:
| DELIVERY ORDER — Toko Berkah Jaya | |
|---|---|
| No. DO | DO/2026/07/018 |
| Tanggal | 12 Juli 2026 |
| No. PO | PO-WBS-072 |
| Kirim ke | Warung Bu Sri, Jl. Kenanga No. 3, Bandung |
| Kontak | Ibu Sri — 0813-xxxx-xxxx |
| No | Kode | Nama barang | Jumlah | Satuan | Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | BRS-05 | Beras Premium 5 kg | 25 | karung | — |
| 2 | MYK-02 | Minyak Goreng 2 L | 12 | dus | — |
| 3 | GLA-01 | Gula Pasir 1 kg | 30 | pak | Titip di rak depan |
Diserahkan oleh: ____________ · Diterima oleh: ____________ · Nama jelas & tanggal terima: ____________
Nol kolom rupiah — itu memang tujuannya.
Perhatikan tiga hal:
- Tidak ada satu pun angka rupiah. Ini yang membedakan DO dari invoice.
- Ada nomor PO. Itu yang menyambungkan DO ini ke pesanan asli si pembeli.
- Baris beras 25 karung adalah transaksi yang sama dengan baris “12 Juli — Pesanan warung langganan — keluar 25” di kartu stok Toko Berkah Jaya. Satu kejadian, dua dokumen: DO adalah surat perintahnya, kartu stok adalah catatan akibatnya.
Barang yang keluar lewat DO juga harus mengurangi catatan stokmu di hari yang sama. Cara mencatatnya ada di kartu stok — contohnya memakai barang dan tanggal yang sama dengan DO di atas.
06. Contoh DO per jenis pengiriman
Tidak semua pengiriman sama. Empat bentuk yang paling sering ditemui usaha kecil:
a) Kirim penuh (sekali jalan)
Semua barang di PO dikirim sekaligus. Bentuk paling sederhana — satu PO, satu DO, satu surat jalan.
b) Kirim sebagian (partial delivery)
Stok belum cukup, jadi dikirim bertahap. Buat DO baru untuk setiap pengiriman, jangan pakai ulang DO lama. Di kolom keterangan tulis “Kirim 1 dari 2 — sisa 10 karung menyusul”. Nomor PO-nya tetap sama; nomor DO-nya berbeda.
Yang sering keliru: stok dikurangi sejumlah pesanan, bukan sejumlah yang benar-benar dikirim. Kurangi stok per pengiriman, sesuai angka di DO masing-masing — lihat kartu stok.
Nomor PO sama, nomor DO beda. 15 + 10 = 25 karung sesuai PO.
c) Multi-drop (satu kendaraan, banyak alamat)
Satu mobil mengantar ke beberapa pelanggan. Tetap satu DO per penerima, jangan digabung jadi satu lembar. Kalau digabung, penerima pertama ikut menandatangani barang milik penerima lain.
d) Barang titipan atau konsinyasi
Barang dikirim tapi belum terjual. Tulis jelas di keterangan: “Titipan — retur bila tidak laku dalam 30 hari”. Kalau tidak ditulis, di catatanmu barang itu terlihat sudah terjual padahal belum.
07. Cara bikin delivery order, langkah demi langkah
- Cek PO dari pembeli dulu. Cocokkan barang dan jumlahnya. Kalau ada beda, selesaikan sebelum DO dibuat — bukan setelah barang jalan.
- Cek stok benar-benar ada. Menerbitkan DO untuk barang yang stoknya kosong adalah penyebab nomor satu pengiriman gagal.
- Beri nomor DO yang berurutan. Pakai pola tetap, mis. DO/tahun/bulan/urut. Nomor yang melompat-lompat membuat dokumen sulit dilacak.
- Tulis alamat kirim, bukan alamat penagihan. Dua alamat ini sering berbeda, dan salah tulis berarti barang nyasar.
- Isi rincian barang: kode, nama, jumlah, satuan. Tulis satuannya — “25” saja bisa berarti 25 karung atau 25 kilogram.
- Tulis instruksi khusus di kolom keterangan. Mudah pecah, harus dingin, titip di tetangga.
- Tanda tangani sebagai penerbit, lalu serahkan ke gudang.
- Pastikan penerima tanda tangan dan lembarnya kembali ke kamu. Langkah ini yang paling sering dilewat, dan justru yang paling penting.
08. Siapa pegang lembar DO, dan berapa rangkap
Biasanya tiga rangkap, dan tiap lembar punya pemilik:
| Lembar | Untuk siapa | Gunanya |
|---|---|---|
| Lembar 1 (asli) | Pembeli / penerima | Bukti barang diterima, untuk dicocokkan dengan invoice |
| Lembar 2 | Arsip kamu | Sudah ditandatangani penerima — ini bukti kamu |
| Lembar 3 | Sopir / gudang | Dasar mengeluarkan dan mengantar barang |
Lembar arsip harus kembali bertanda tangan.
Yang paling penting: lembar 2 harus kembali ke kamu dalam keadaan sudah ditandatangani. Banyak usaha kecil memberi semua lembar ke sopir dan tidak pernah menerimanya kembali. Kalau begitu, kamu tidak punya bukti apa pun bahwa barang sudah sampai.
Kalau kamu hanya punya dua rangkap, gabungkan fungsi sopir dan arsip — tapi jangan pernah mengorbankan lembar arsip yang bertanda tangan.
09. Download template delivery order gratis
Template kosong, siap dipakai dan diedit. Semua sudah memakai struktur di bagian 04, dan tidak ada kolom harga di dalamnya.
- Template Delivery Order (Word) — untuk diketik dan dicetak
- Template Delivery Order (Excel) — ada sheet riwayat DO supaya penomoran tetap urut
- Template Delivery Order (PDF) — untuk langsung dicetak dan diisi tangan
- Contoh DO yang sudah diisi (Excel) — contoh Toko Berkah Jaya di bagian 05
Bingung pilih yang mana?
| Pilih ini | Kalau kamu… |
|---|---|
| Word | Sesekali bikin DO, diketik lalu dicetak |
| Excel | Sering bikin DO dan mau nomor urut + riwayat pengiriman tersimpan. Bisa dibuka juga di Google Sheets |
| Mau cetak lembar kosong dan isi tulis tangan |
Kalau kamu baru mulai, cetak yang PDF dulu sekitar 20 lembar, isi tangan, dan pastikan tiap lembar kembali dengan tanda tangan. Pindah ke Excel kalau pengirimanmu sudah lebih dari beberapa kali sehari.
10. DO di pelabuhan: kenapa artinya beda
Kalau kamu mengimpor barang, “delivery order” berarti hal lain: surat pelepasan kargo dari perusahaan pelayaran atau agennya kepada operator terminal, supaya kamu boleh mengambil kontainer di pelabuhan.
Pastikan yang kamu maksud.
Kalau yang kamu urus adalah kontainer di pelabuhan, dokumen dan prosesnya berbeda — dan biasanya diurus lewat perusahaan ekspedisi atau customs broker, bukan dibuat sendiri.
11. Kesalahan yang bikin DO ditolak
Tujuh yang paling sering.
- Menaruh harga di DO. Membuat pembeli mengira itu tagihan, dan membocorkan marginmu ke sopir.
- Tidak mencantumkan nomor PO. Bagian penerimaan pembeli tidak bisa mencocokkan kiriman dengan pesanan, dan barang bisa ditolak di pintu.
- Lupa satuan. “25” tanpa satuan adalah sumber selisih yang paling sering terjadi.
- Satu DO untuk banyak penerima. Tanda tangannya jadi tidak sah untuk masing-masing.
- Memakai ulang DO lama untuk kirim susulan. Riwayat pengiriman jadi tidak bisa dilacak.
- Tidak mengambil kembali lembar bertanda tangan. Dokumen tanpa tanda tangan penerima sama saja dengan tidak ada dokumen.
- Alamat penagihan dipakai sebagai alamat kirim. Penyebab paling umum barang nyasar.
12. Setelah barang dikirim: biar jualan dan pembukuan nyambung
Begitu barang keluar, tiga hal harus ikut bergerak: stok berkurang, penjualan tercatat, dan tagihan terbit. Kalau ketiganya ditulis terpisah, selisih pasti muncul di akhir bulan.
Selama transaksinya masih sedikit, DO tulis tangan sudah cukup — tidak perlu aplikasi apa pun. Masalahnya baru terasa waktu pesanan bertambah:
- nomor DO mulai susah dilacak, apalagi kalau ada kirim bertahap
- barang sudah keluar tapi stok lupa dikurangi, jadi catatan dan rak beda
- invoice tidak cocok dengan barang yang benar-benar dikirim
- lembar DO pelanggan tercecer, jadi tidak ada bukti waktu ditanya
Di titik ini masalahnya bukan dokumennya lagi — tapi bahwa pencatatan penjualan, stok, invoice, dan laporan usaha belum saling terhubung. Selama empat hal itu ditulis di empat tempat berbeda, selisih akan terus muncul berapa kali pun kamu rapikan formulirnya.
Di situlah Niagawan membantu, tepat di sisi setelah barang dikirim: invoice & nota rapi, jualan langsung tercatat, dan laporan keuangan tersusun sendiri — jadi kamu tidak menulis transaksi yang sama dua kali.
Tujuh dokumen ini muncul berurutan dalam satu transaksi. DO ada di langkah kedua.
- Purchase order — saat pembeli memesan barang
- Delivery order — saat penjual menyuruh gudang menyiapkan barang (halaman ini)
- Surat jalan — saat barang mulai dikirim
- Invoice — saat penjual menagih pembeli
- Kwitansi — saat pembayaran diterima
- Buku kas — mencatat uang masuk dan keluar
- Laporan laba rugi — melihat hasil usaha
Kalau yang kamu urus barang, bukan uang: purchase order → barang masuk → kartu stok → delivery order → barang keluar → stok berkurang.
Pertanyaan yang sering ditanya soal delivery order
Delivery order adalah?
Delivery order (DO) adalah surat perintah dari penjual kepada bagian gudang untuk mengeluarkan barang dan mengirimkannya ke pembeli. Isinya nama barang, jumlah, satuan, dan alamat kirim — tanpa harga, karena harga ada di invoice.
Apa bedanya PO dan DO?
PO dibuat oleh pembeli untuk memesan barang. DO dibuat oleh penjual untuk memerintahkan gudang mengeluarkan barang tersebut. Arahnya berlawanan: PO masuk ke kamu, DO keluar dari kamu.
Apa bedanya delivery note dan delivery order?
Delivery order adalah perintah internal ke gudang sebelum barang keluar. Delivery note ikut bersama barang dan ditandatangani penerima — pada praktiknya sama dengan surat jalan.
Delivery order dan surat jalan apakah sama?
Tidak sama, walau sering dipakai bergantian. DO adalah perintah ke gudang; surat jalan ikut naik ke kendaraan bersama barang dan ditandatangani penerima. Di usaha kecil satu lembar sering dipakai untuk kedua fungsi, dan itu sah selama ada kolom tanda tangan penerima.
Bagaimana cara menulis delivery order yang benar?
Cek PO dan stok dulu, beri nomor urut, tulis alamat kirim bukan alamat penagihan, isi rincian barang lengkap dengan satuannya, tulis instruksi khusus di keterangan, tanda tangani, lalu pastikan penerima menandatangani dan lembarnya kembali ke kamu.
Delivery order diberikan kepada siapa?
Biasanya tiga rangkap: lembar asli untuk pembeli, satu lembar untuk arsipmu yang harus kembali dalam keadaan sudah ditandatangani, dan satu lembar untuk sopir atau gudang.
Apa arti DO dalam jual beli?
DO adalah singkatan dari delivery order — surat perintah pengeluaran barang. Kalau ada yang bertanya "DO-nya sudah keluar belum?", maksudnya surat perintah ini, bukan pesanan pembeli.
Apakah delivery order harus ada harganya?
Tidak. Justru sebaiknya tidak ada. DO hanya memuat barang, jumlah, dan satuan. Harga dan total ada di invoice — pemisahan itu memang tujuan dokumen ini.
Bagaimana kalau barang dikirim bertahap?
Buat DO baru untuk setiap pengiriman dengan nomor DO berbeda, tapi nomor PO yang sama. Tulis di keterangan, misalnya "Kirim 1 dari 2 — sisa menyusul".
Apakah usaha kecil wajib membuat delivery order?
Tidak wajib. Kalau kamu sendiri yang melayani dan mengantar, surat jalan saja cukup. DO mulai diperlukan begitu ada orang gudang yang terpisah dari orang yang menerima pesanan.