Barang keluar dari toko atau gudang cuma modal "titip ya" atau nota seadanya — terus pas barang nyasar, jumlahnya kurang, atau pembeli bilang "barangku belum sampai", kamu nggak punya bukti siapa yang nerima. Atau surat jalan ditulis tangan asal-asalan, nomornya loncat, dan salinan buat arsip ilang entah ke mana. Padahal satu dokumen kecil ini yang jaga kamu tiap kali barang berpindah tangan: surat jalan.
Surat jalan adalah dokumen pengantar barang yang dibuat pengirim (penjual/gudang) dan ikut jalan bareng barang saat dikirim ke penerima — sebagai bukti barang sudah dikirim dan diterima. Di panduan ini kamu bakal dapat contoh surat jalan yang siap ditiru per jenis pengiriman, komponen wajib yang harus ada, cara bikin & ngisinya langkah demi langkah, plus template gratis (Word, Excel, PDF) yang bisa langsung kamu download — semua tanpa perlu jago administrasi dulu.
01. Apa itu surat jalan? (jawaban singkat dulu)
Surat jalan adalah dokumen pengantar barang yang dibuat pengirim dan menyertai barang saat dikirim ke pembeli atau penerima, sebagai bukti bahwa barang sudah dikirim dan diterima. Jadi kalau ada yang tanya "surat jalan itu apa?", jawabannya gampang — ini surat kecil yang jalan bareng barangmu, biar jelas apa yang dikirim, ke siapa, dan siapa yang menerima.
Surat jalan sering juga disebut surat pengantar barang. Bedanya sama dokumen lain: surat jalan fokus ke barang yang berpindah, bukan ke uang. Makanya isinya daftar barang dan kolom tanda tangan penerima — biasanya tanpa harga. Harga dan tagihan urusannya faktur atau invoice, bukan surat jalan.
02. Kapan kamu harus membuat surat jalan?
Pertanyaan yang sering ketuker: bukan cuma "apa itu surat jalan", tapi kapan dibuatnya. Ini yang penting banget — surat jalan dibuat SEBELUM barang keluar dari gudang atau toko. Bukan setelah barang dikirim, dan bukan setelah invoice. Soalnya surat jalan itu yang nemenin barang di perjalanan; kalau barang udah jalan duluan tanpa surat, kamu kehilangan momen buat ngerekam buktinya.
Biar kebayang urutannya, ini alur dari pelanggan pesan sampai kamu nagih — perhatikan di mana surat jalan muncul:
03. Fungsi surat jalan: kenapa penting buat usahamu (bukan cuma formalitas)
Banyak owner ngira surat jalan cuma formalitas — padahal ini yang jaga kamu waktu barang lagi di jalan dan belum sampai tangan penerima. Ini empat fungsi utamanya:
- Bukti pengiriman & penerimaan. Begitu penerima tanda tangan, kamu punya bukti barang sudah sampai dan diterima. Kalau ada yang bilang "barang belum sampai", surat jalan yang bertanda tangan jadi pegangan — anti-sengketa.
- Izin barang lewat di jalan. Waktu barang dibawa keluar, surat jalan jadi keterangan resmi bahwa barang itu memang dikirim, bukan barang tak jelas asalnya — berguna kalau ada pemeriksaan di jalan.
- Dasar cocokin barang keluar dengan stok & penjualan. Barang yang keluar lewat surat jalan bisa kamu cocokin sama catatan stok dan penjualan — jadi ketahuan apa yang keluar hari ini dan barang mana yang berkurang.
- Alat kontrol biar barang nggak "hilang di jalan". Dengan surat jalan bernomor, tiap pengiriman kelacak. Nggak ada lagi barang keluar tanpa jejak.
Kamu nggak punya bukti barang sudah diterima. Kalau pembeli komplain jumlahnya kurang atau barang rusak, nggak ada catatan siapa yang megang terakhir. Kalau sopir bilang "udah saya antar", kamu nggak bisa buktikan sebaliknya. Barang keluar jadi tanpa jejak — dan selisih stok susah dilacak. Surat jalan nutup semua celah itu dengan satu tanda tangan.
Pak Andi punya toko bangunan. Suatu hari dia kirim 50 sak semen ke pelanggan pakai pick-up — cuma dicatat di WhatsApp, tanpa surat jalan. Dua hari kemudian pelanggan telepon: "Pak, semennya saya terima cuma 45 sak, kurang 5." Pak Andi yakin dia kirim 50, tapi… nggak ada surat jalan yang ditandatangani. Nggak ada bukti. Sopir udah lupa, pelanggan ngotot. Akhirnya Pak Andi terpaksa ganti 5 sak biar pelanggan nggak kabur — rugi, padahal belum tentu salah dia.
Kalau saja ada surat jalan yang ditandatangani pelanggan sejak barang diterima, sengketa ini kelar dalam 30 detik — tinggal tunjukin tanda tangannya. Satu lembar kertas, lima sak semen selamat. (Nama cuma ilustrasi.)
04. Surat jalan vs invoice, faktur, nota & delivery order (DO)
Ini bagian yang paling sering bikin bingung. Dokumen-dokumen ini kelihatan mirip, tapi fungsinya beda — kuncinya ada di kapan dipakai dan apa isi utamanya. Satu tabel biar langsung jelas:
| Dokumen | Kapan dipakai | Siapa yang buat | Isi utamanya |
|---|---|---|---|
| Surat jalan | Saat barang dikirim | Pengirim / gudang | Daftar barang + tanda terima — biasanya tanpa harga |
| Tanda terima | Saat barang atau dokumen diserahkan langsung (tanpa pengiriman) | Yang menerima | Rincian yang diterima + tanda tangan penerima — tanpa harga |
| Invoice / Faktur | Saat menagih pembayaran | Penjual | Rincian barang + harga + total tagihan — lihat faktur |
| Nota penjualan | Saat menjual di titik penjualan | Penjual | Bukti barang yang dijual + harga — lihat contoh nota penjualan |
| Kwitansi | Setelah uang diterima | Penerima uang | Bukti bahwa uang sudah diterima |
| Delivery order (DO) | Sebelum barang keluar gudang | Internal (kantor → gudang) | Perintah untuk mengeluarkan barang dari gudang |
- Surat jalan vs invoice/faktur: surat jalan soal barang yang dikirim (tanpa harga), faktur soal uang yang ditagih (ada harga & total). Sering keduanya jalan bareng: surat jalan nemenin barang, faktur buat nagih.
- Surat jalan vs nota: nota adalah bukti jual-beli di titik penjualan (ada harga), surat jalan adalah bukti barang berpindah ke penerima (tanpa harga).
- Surat jalan vs delivery order (DO): DO itu perintah internal untuk mengeluarkan barang dari gudang; surat jalan itu dokumen yang ikut jalan bareng barang sampai ke penerima. DO di dalam kantor, surat jalan di jalan.
- Dari sisi pembeli: kalau kamu yang menerima barang, surat jalan ini kamu cocokin sama nota pembelian dari supplier — biar jumlah barang yang datang pas sama yang dipesan.
Jadi kalau ada yang tanya "surat jalan sama dengan invoice?" — beda: surat jalan buat nemenin barang, invoice buat nagih uang. "Surat jalan sama dengan DO?" — mirip tapi nggak sama: DO perintah keluarkan barang di gudang, surat jalan menyertai barang sampai tangan penerima.
Boleh nggak kirim barang cuma pakai invoice?
Boleh — nggak ada yang ngelarang. Tapi fungsinya beda, dan kamu kehilangan satu bukti penting. Invoice membuktikan NILAI transaksi (berapa yang harus dibayar); surat jalan membuktikan barang DITERIMA (apa yang sampai dan siapa yang teken). Kalau cuma pakai invoice, kamu bisa nagih, tapi pas pelanggan bilang "barang saya kurang", invoice nggak bisa buktikan apa-apa soal serah-terima barang. Idealnya keduanya jalan: surat jalan nemenin barang, invoice buat nagih.
05. Alur dokumen: dari order sampai laporan
Banyak yang bingung karena dokumen usaha itu banyak — ada pesanan, DO, surat jalan, invoice, kwitansi. Padahal semuanya nyambung dalam satu rantai, dan tiap dokumen punya gilirannya sendiri. Ini peta lengkapnya, dari pelanggan pesan sampai masuk laporan keuangan:
Posisi surat jalan ada di tengah rantai: setelah barang disiapkan, dan tepat sebelum invoice. Dia jembatan antara "barang keluar" dan "uang ditagih". Sales Order dan Delivery Order sifatnya opsional dan lebih ke urusan internal gudang — banyak warung dan toko kecil langsung dari pesanan ke surat jalan, nggak apa-apa. Tapi surat jalan, invoice, dan kwitansi itu tiga dokumen yang sebaiknya selalu ada, karena masing-masing bukti dari hal yang beda: barang dikirim (surat jalan), tagihan (invoice), dan uang diterima (kwitansi).
06. Berapa Rangkap, dan Siapa Pegang yang Mana
Surat jalan itu satu-satunya dokumen di panduan ini yang ikut jalan bareng barangnya. Karena itu jumlah rangkapnya bukan urusan administrasi — tiap rangkap punya orang dan tujuan sendiri.
| Rangkap | Buat siapa | Fungsinya |
|---|---|---|
| Lembar 1 (asli) | Penerima barang | Bukti buat dia bahwa barangnya datang dan sesuai |
| Lembar 2 | Kembali ke kamu, ditandatangani penerima | Ini yang paling penting. Tanpa lembar ini kamu nggak punya bukti barang sudah sampai |
| Lembar 3 | Sopir atau ekspedisi | Pegangan dia di jalan kalau ditanya bawa barang apa |
| Lembar 4 (opsional) | Gudang | Buat mencocokkan barang keluar dengan catatan stok |
Sopir pulang tanpa membawa lembar yang sudah ditandatangani. Barangnya sampai, semuanya lancar, tapi kamu nggak pegang bukti apa pun. Tiga bulan kemudian pelanggan bilang “kiriman yang itu nggak pernah datang” — dan kamu nggak bisa membuktikan sebaliknya. Bikin ini aturan tetap buat sopirmu: pulang harus bawa lembar bertanda tangan.
Kalau kamu pakai ekspedisi, resi mereka bisa jadi pengganti lembar bertanda tangan — simpan resinya bersama salinan surat jalanmu. Kalau kamu antar sendiri, foto lembar yang sudah diteken pakai HP begitu selesai. Itu 5 detik yang menutup celah paling umum.
07. Yuk isi surat jalan bareng-bareng
Sekarang kita isi satu surat jalan pelan-pelan, kolom per kolom, pakai contoh tadi (SJ-2026-0148). Anggap kamu baru pertama kali bikin — tiap baris aku jelasin artinya:
| Kolom | Contoh diisi | Artinya |
|---|---|---|
| Nomor | SJ-2026-0148 | Nomor urut suratmu. "SJ" = surat jalan, "2026" tahunnya, "0148" urutan ke-148. Bikin surat gampang dicari nanti. |
| Tanggal | 20 Juli 2026 | Hari barang dikirim — bukan hari pesanan masuk. |
| Kepada / Penerima | Toko Berkah | Nama orang atau toko yang bakal terima barang. |
| Alamat kirim | Jl. Merdeka No. 8, Bandung | Alamat lengkap tujuan. Makin jelas (plus patokan), makin kecil kemungkinan barang nyasar. |
| Daftar barang + jumlah | Beras 5 kg — 20 karung, dst. | Rincian tiap barang: nama, jumlah, satuan. Ini yang dicek penerima satu per satu pas barang sampai. |
| Kendaraan / sopir | Truk B 9021 KLM · Pak Rudi | Siapa dan pakai apa barang dibawa. Kalau ada apa-apa di jalan, ini jejaknya. |
| Tanda tangan | Pengirim · sopir · penerima | Tiga kolom teken. Yang paling penting tanda tangan penerima — itu bukti barang beneran sampai. |
08. Contoh surat jalan (siap tiru, per jenis pengiriman)
Teori udah, sekarang contoh surat jalan yang beneran diisi — buat berbagai jenis pengiriman biar kamu tinggal sesuaikan. Semua nama, alamat, dan angka cuma misal, dan sengaja tanpa kolom harga (itu urusan faktur).
| SJ-2026-0148 · UD Maju Jaya → Toko Berkah, Bandung · 20 Jul 2026 · Truk B 9021 KLM (Pak Rudi) | ||
|---|---|---|
| Beras premium 5 kg | 20 karung | Baik |
| Minyak goreng 2 L | 15 dus | Baik |
| Gula pasir 1 kg | 30 pak | Baik |
| SJ-2026-0201 · TB Sumber Kuat → Proyek Ruko Griya Asri (Pak Joko) · 19 Jul 2026 · Pick-up D 4512 XY | ||
|---|---|---|
| Semen 40 kg | 50 sak | Baik |
| Besi beton 10 mm | 40 batang | Baik |
| Cat tembok 25 kg | 6 pail | Baik |
| SJ-2026-0233 · Konveksi Rapi → Butik Melati, Surabaya · 18 Jul 2026 · Ekspedisi Cepat Jaya · Resi: CJ8842019 | ||
|---|---|---|
| Kemeja katun (campur ukuran) | 3 koli | 60 pcs · Baik |
| Celana bahan | 1 koli | 20 pcs · Baik |
| SJ-RETUR-2026-0057 · Toko Berkah → UD Maju Jaya (retur) · 21 Jul 2026 · Truk B 9021 KLM | ||
|---|---|---|
| Minyak goreng 2 L | 2 dus | RETUR — kemasan penyok |
| Gula pasir 1 kg | 3 pak | RETUR — salah kirim |
| Nama barang | Jumlah | Satuan | Keterangan |
|---|---|---|---|
| _________________ | ____ | ____ | ________ |
| _________________ | ____ | ____ | ________ |
| _________________ | ____ | ____ | ________ |
Kop (nama & alamat pengirim), nomor, tanggal, penerima, alamat tujuan, kendaraan/sopir, dan tiga kolom tanda tangan tinggal kamu isi. Versi lengkap yang tinggal cetak ada di bagian download di bawah.
Strukturnya sama persis — nomor, tanggal, pengirim, penerima, alamat tujuan, daftar barang, kendaraan/sopir, tanda tangan — cuma isi dan keterangannya yang beda menyesuaikan jenis pengiriman. Sekali kamu punya format yang benar, tinggal ganti isinya tiap kirim. Mau langsung pakai? Ambil template kosongnya di bawah.
Ambil template kosong yang tinggal kamu isi — sudah ada kop, kolom nomor & tanggal, daftar barang, kendaraan/sopir, dan tiga kolom tanda tangan. Tersedia dalam tiga format:
09. Kalau Barang Ditolak Sebagian Waktu Sampai
Barang sampai, penerima buka, dan ada yang nggak beres — kurang, rusak, atau salah kirim. Ini terjadi saat sopirmu masih berdiri di situ, dan yang kamu putuskan dalam 5 menit berikutnya menentukan siapa yang menanggung.
| Situasi di lokasi | Yang ditulis di surat jalan | Kenapa |
|---|---|---|
| Sebagian ditolak — 8 dari 10 diterima | Coret jumlahnya, tulis “diterima 8, dikembalikan 2”, paraf penerima dan sopir | Yang dikembalikan ikut pulang bareng sopir, jadi harus tercatat di lembar yang sama |
| Rusak tapi tetap diterima | “Diterima, 1 dus penyok” — jangan biarkan kolom kondisi kosong | Kalau ditulis “baik” padahal penyok, kerusakannya jadi tanggunganmu |
| Penerima nggak mau tanda tangan | Sopir tulis “ditolak tanda tangan” plus jam dan nama orang yang menemui | Lebih baik daripada lembar kosong. Ini tetap catatan bahwa kamu datang |
| Yang tanda tangan bukan pemiliknya | Tulis nama dan posisinya: “diterima Budi, karyawan gudang” | Paraf tanpa nama gampang dibantah — “itu bukan tanda tangan siapa-siapa” |
Kalau ada yang dikembalikan, jangan berhenti di surat jalan. Yang ditolak berarti tagihannya juga harus turun — terbitkan nota kredit yang menyebut nomor surat jalan dan nomor invoice-nya, di hari yang sama selagi semua orang masih ingat.
10. Kirim ke Banyak Alamat Sekali Jalan (Multi-drop)
Satu mobil, lima pelanggan, sekali jalan. Ini cara paling hemat buat usaha kecil, dan juga cara paling gampang bikin catatan jadi kacau.
Aturannya: satu penerima, satu surat jalan. Godaannya besar buat bikin satu lembar berisi semua tujuan — jangan. Tiap penerima cuma boleh tanda tangan buat barangnya sendiri. Kalau digabung, penerima pertama sudah menandatangani lembar yang mencantumkan barang penerima kelima, dan lembarnya nggak membuktikan apa-apa.
2. Tambahkan satu lembar daftar muat buat sopir — isinya cuma nomor surat jalan, nama penerima, alamat. Lembar ini bukan bukti serah-terima, cuma panduan rute.
3. Urutkan tumpukannya sesuai rute, bukan sesuai nomor.
4. Sopir pulang bawa semua lembar bertanda tangan. Hitung lembarnya, bukan cuma tanya “lancar?”
Cara ngecek yang cepat waktu sopir balik: jumlah lembar yang pulang harus sama dengan jumlah tujuan. Kurang satu berarti ada satu kiriman yang belum kamu punya buktinya — tanyakan hari itu juga, bukan akhir bulan.
11. Surat Jalan Balik: Barang yang Dikembalikan
Barang yang dikembalikan juga bergerak — dari pelanggan balik ke gudangmu. Perjalanan itu butuh dokumen juga, dan kebanyakan usaha kecil melewatkannya sampai stoknya nggak cocok — barang yang balik ke gudang harus masuk lagi ke kartu stok barang.
Sebutannya macam-macam: surat jalan retur, surat jalan balik, atau nota pengembalian. Bentuknya sama saja dengan surat jalan biasa, arahnya yang kebalik.
| Yang harus ada | Contoh isian |
|---|---|
| Nomor surat jalan asli yang barangnya dikembalikan | Merujuk SJ-2026-0088 |
| Alasan pengembalian | Salah ukuran, rusak dalam perjalanan, kelebihan kirim |
| Kondisi barang saat balik | Segel utuh / kemasan terbuka / rusak |
| Siapa yang bawa dan kapan | Diambil sopir kami, 5 Agustus |
| Tanda tangan dua pihak | Yang menyerahkan dan yang menerima balik |
Yang sering terlewat: barang balik masuk gudang tapi nggak pernah masuk catatan stok. Angka di sistem bilang 40, di rak ada 42, dan nggak ada yang tahu kenapa. Begitu barang retur turun dari mobil, catat masuk hari itu juga — sekalian terbitkan nota kreditnya supaya tagihan dan stok turun bareng.
12. Biar dokumen usahamu rapi & nyambung ke pembukuan
Di sini bagian yang sering kelewat: surat jalan itu nggak berdiri sendiri. Setelah barang dikirim (surat jalan) dan ditagih (invoice/nota), semua pencatatannya sebaiknya nggak berantakan di banyak tempat — buku surat jalan di laci, nota di tempat lain, dan pembukuan entah di mana. Tiga tempat buat satu transaksi.
Setelah barang dikirim & ditagih, biar pencatatannya rapi jadi satu
- ✓ Rapiin invoice & nota penjualan — nggak perlu ngetik ulang di banyak tempat tiap transaksi.
- ✓ Jualan langsung kecatat ke pembukuan — stok kelacak, nggak usah catat dua kali.
- ✓ Laporan keuangan (laba-rugi, arus kas, neraca) tersusun otomatis — bisa kamu buka dari HP lewat cloud, kapan aja.
Surat jalannya sendiri tetap kamu buat seperti biasa — yang Niagawan bantu adalah sisi setelah barang dikirim: invoice & nota rapi, jualan langsung kecatat, dan laporan keuangan tersusun sendiri lewat aplikasi invoice & nota. Bisa kamu atur sendiri tanpa sewa konsultan — kalau bisa pakai HP, kamu bisa pakai Niagawan.
Semua nama usaha, alamat, nomor surat jalan, dan angka dalam contoh di halaman ini adalah ilustrasi supaya lebih mudah dipahami. Sesuaikan dengan data pengirimanmu sendiri.
Pertanyaan yang Sering Ditanya (FAQ)
Apa itu surat jalan?
Surat jalan adalah dokumen pengantar barang yang dibuat pengirim dan menyertai barang saat dikirim ke penerima, sebagai bukti barang sudah dikirim dan diterima. Sering juga disebut surat pengantar barang.
Apa fungsi surat jalan?
Sebagai bukti pengiriman & penerimaan barang (anti-sengketa "barang belum sampai"), keterangan resmi barang lewat di jalan, dasar mencocokkan barang keluar dengan stok & penjualan, dan alat kontrol biar barang nggak hilang di jalan.
Apa bedanya surat jalan dan invoice/faktur?
Surat jalan soal barang yang dikirim dan biasanya tanpa harga; invoice/faktur soal uang yang ditagih dan berisi harga + total. Keduanya sering jalan bareng: surat jalan menemani barang, faktur untuk menagih.
Apakah surat jalan sama dengan delivery order (DO)?
Mirip tapi beda. Delivery order (DO) adalah perintah internal untuk mengeluarkan barang dari gudang. Surat jalan adalah dokumen yang ikut jalan bareng barang sampai ke penerima dan ditandatangani sebagai bukti terima.
Bagaimana cara membuat surat jalan?
Isi kop & nomor surat, tanggal, data penerima & alamat tujuan, daftar barang (nama, jumlah, satuan, keterangan), kendaraan/ekspedisi & sopir, lalu tanda tangan dan buat minimal 3 rangkap. Bisa manual di buku surat jalan/Word/Excel, atau pakai aplikasi biar nomornya otomatis rapi. Cara termudah: download template gratis di halaman ini, lalu tinggal isi.
Berapa rangkap surat jalan dibuat?
Umumnya 3 rangkap: satu untuk arsip pengirim, satu untuk penerima, dan satu ikut sopir/ekspedisi. Bisa 4 rangkap kalau butuh salinan untuk bagian keuangan/penagihan.
Siapa yang menandatangani surat jalan?
Tiga pihak: pengirim (yang mengirim barang), sopir/ekspedisi (yang membawa), dan penerima (yang menerima barang di tujuan). Tanda tangan penerima yang paling penting — itu bukti barang benar-benar diterima.
Apakah surat jalan wajib dibuat?
Secara praktik, sangat dianjurkan tiap kali barang berpindah tempat — karena inilah bukti pengiriman & penerimaanmu. Tanpa surat jalan, kamu nggak punya pegangan kalau ada barang kurang, rusak, atau sengketa "belum sampai".
Bagaimana kalau surat jalan hilang setelah barang dikirim?
Selama kamu simpan salinan arsip (rangkap pengirim), kamu masih punya buktinya — itu sebabnya surat jalan dibuat minimal 3 rangkap dan salinan digital lebih aman. Kalau semua salinan hilang, buat catatan pengganti dan minta konfirmasi terima dari penerima.
Bagaimana kalau barang diretur sebagian?
Buat surat jalan retur terpisah untuk barang yang dikembalikan — kasih tanda "RETUR" di nomor dan kolom keterangan, tulis alasannya (rusak/salah kirim), dan arah kirimnya kebalik (penerima jadi pengirim). Barang yang tetap dipakai nggak perlu diutak-atik.
Bagaimana kalau kirim pakai kurir atau ekspedisi pihak ketiga?
Surat jalan tetap kamu buat, lalu tambahkan nama ekspedisi dan nomor resi. Nomor resi ini yang nyambungin surat jalanmu ke pelacakan kurir. Bukti pengiriman atau tanda terima dari kurir jadi pengganti tanda tangan penerima langsung.
Bagaimana surat jalan untuk dropship?
Karena barang dikirim langsung dari supplier ke pembeli akhir, biasanya supplier yang bikin surat jalan. Banyak dropshipper minta supplier mencantumkan nama toko dropshipper (bukan nama supplier) di surat jalan biar pembeli nggak tahu sumber aslinya. Koordinasikan ini dengan supplier sebelum kirim.
Bagaimana surat jalan untuk COD (bayar di tempat)?
Surat jalan tetap dibuat seperti biasa untuk bukti serah-terima barang. Pembayaran COD-nya kamu catat terpisah — saat uang diterima, buat kwitansi atau tandai lunas di nota/invoice. Surat jalan buktikan barang diterima, kwitansi buktikan uang diterima.
Bagaimana kalau barang dikirim sebagian dulu (dua kali kirim)?
Buat satu surat jalan untuk tiap kali pengiriman. Kirim pertama = surat jalan sendiri (sebutkan jumlah yang dikirim hari itu), kirim kedua = surat jalan baru untuk sisanya. Jangan gabung dua pengiriman dalam satu surat — nanti tanda terimanya jadi rancu.
Bagaimana kalau satu pengiriman ke dua alamat berbeda?
Pisahkan jadi dua surat jalan, satu untuk tiap alamat tujuan — walaupun barangnya diangkut satu kendaraan. Tiap penerima tanda tangan di suratnya masing-masing, jadi bukti terimanya jelas per tujuan.