Panduan Harga Jual · Indonesia

Markup Adalah: Rumus, Cara Menghitung, dan Bedanya dengan Margin

Markup adalah tambahan yang kamu pasang di atas modal untuk jadi harga jual — lengkap dengan rumusnya, bedanya dengan margin, contoh angka Rupiah untuk toko dan warung, plus kalkulator yang bisa langsung kamu pakai di halaman ini.

Kamu beli barang Rp60.000, terus mau jual. Pertanyaannya cuma satu, dan ini yang bikin banyak pemilik toko berhenti sebentar di depan rak: harganya mau dipasang berapa? Kalau jawabannya selama ini “ikut toko sebelah”, kamu bukan sedang menentukan harga — kamu sedang menebak.

Markup adalah tambahan yang kamu tempelkan di atas harga modal untuk jadi harga jual. Beli Rp60.000, jual Rp75.000, berarti markup-mu Rp15.000 — atau 25% dari modal. Itu saja. Bukan istilah akuntansi yang rumit, dan bukan sesuatu yang perlu kamu serahkan ke orang lain.

Di panduan ini ada rumus markup dan cara menghitungnya, bedanya dengan margin (ini yang paling sering ketuker, dan salahnya mahal), contoh angka Rupiah untuk toko dan warung, kalkulator yang bisa langsung kamu pakai di halaman ini, plus jawaban jujur soal berapa markup yang wajar dan apakah markup harga itu boleh.

⚠️ Satu hal yang paling sering salah

Markup 25% tidak berarti untungmu 25%. Markup dihitung dari modal, margin dihitung dari harga jual. Beli Rp60.000 jual Rp75.000 itu markup 25% tapi margin cuma 20%. Salah pakai angka ini, harga jualmu kekecilan terus dan kamu nggak akan tahu kenapa untungnya nggak pernah cukup. Bedanya dibongkar di bagian 03.

📋 Ringkasan singkat
  • Markup = harga jual − harga modal. Dihitung dari modal.
  • Rumus: markup % = (harga jual − modal) ÷ modal × 100%
  • Harga jual: modal × (1 + markup %)
  • Markup ≠ margin. Markup 25% = margin 20%. Markup 100% = margin 50%.
  • Markup dihitung dari modal sebenarnya — harga beli plus ongkos angkut dan kemasan. Istilah akuntansinya HPP.

01. Markup itu apa? (jawaban singkat)

Markup adalah selisih antara harga modal dan harga jual — tambahan yang kamu pasang di atas modal supaya usahamu dapat untung. Orang juga menulisnya mark up (dua kata); artinya sama persis, dan Google memperlakukannya sama.

Bentuknya bisa dua macam, dan penting kamu tahu bedanya karena keduanya sama-sama disebut “markup”:

BentukArtinyaContoh (modal Rp60.000)
Markup nominalTambahan dalam RupiahRp15.000
Markup persenTambahan itu dibandingkan modalRp15.000 ÷ Rp60.000 = 25%

Kalau ada yang bilang “markup-nya 30”, tanya dulu: 30 ribu atau 30 persen? Di barang murah, dua angka itu jauh berbeda.

🧠 Bayangkan rak tokomu

Sebungkus kopi kamu tebus Rp12.000 dari supplier. Kamu pasang harga Rp15.000. Selisih Rp3.000 itulah markup-mu — 25% dari modal. Dari Rp3.000 itu nanti kamu bayar listrik, plastik, dan waktumu sendiri. Sisanya baru untung.

02. Rumus markup dan cara menghitungnya

Ada tiga rumus yang kamu butuhkan, dan ketiganya cuma pindah-pindah posisi angka yang sama.

Kamu mau cariRumusnya
Markup nominal (Rp)harga jual − modal
Markup persen (%)(harga jual − modal) ÷ modal × 100%
Harga jual, dari markupmodal × (1 + markup %)

Perhatikan kamu membaginya dengan apa: modal, bukan harga jual. Itu satu-satunya hal yang membedakan markup dari margin — dan sumber hampir semua salah hitung di bagian berikutnya.

Contoh langkah demi langkah. Bu Sari punya toko sembako. Beras 5 kg ditebus Rp60.000, dijual Rp75.000.

Langkah 1 — markup nominalRp75.000 − Rp60.000 = Rp15.000
Langkah 2 — bagi dengan modalRp15.000 ÷ Rp60.000 = 0,25
Langkah 3 — jadikan persen0,25 × 100% = markup 25%

Kebalikannya juga sering kamu butuhkan. Kalau Bu Sari mau markup 25% untuk barang bermodal Rp48.000: Rp48.000 × 1,25 = Rp60.000. Itu harga jualnya.

03. Beda markup dan margin (ini yang paling sering ketuker)

Ini pertanyaan nomor satu yang orang cari soal markup, dan jawabannya pendek: markup dibagi modal, margin dibagi harga jual. Angkanya beda, transaksinya sama.

⚠️ Salahnya di mana kalau ketuker

Pakai transaksi Bu Sari yang tadi — modal Rp60.000, jual Rp75.000, untung Rp15.000:

 MarkupMargin
Dibagi apaModal (Rp60.000)Harga jual (Rp75.000)
Hitungannya15.000 ÷ 60.00015.000 ÷ 75.000
Hasilnya25%20%
Menjawab“Aku naikkan berapa dari modal?”“Dari tiap Rp100 penjualan, berapa yang jadi untungku?”
Dipakai saatMemasang harga di rakMembaca laporan laba rugi

Untuk transaksi yang sama, markup selalu lebih besar daripada margin. Sebabnya sederhana: markup dibandingkan dengan modal, sedangkan margin dibandingkan dengan harga jual — dan harga jual selalu lebih besar. Kalau kamu dengar angka yang sama disebut untuk keduanya, salah satunya pasti keliru.

Tabel konversi ini bisa kamu tempel di dekat kasir:

MarkupMarginArtinya
10%9,1%Sangat tipis
20%16,7% 
25%20%Umum di sembako
30%23,1% 
50%33,3% 
100%50%Harga jual 2× modal
150%60% 
200%66,7%Harga jual 3× modal

Rumus konversinya, kalau kamu mau hitung sendiri: margin = markup ÷ (1 + markup), dan sebaliknya markup = margin ÷ (1 − margin).

Kamu mau untung 30% dari penjualan, lalu memasang markup 30%. Yang kamu dapat sebenarnya margin 23,1% — kurang hampir sepertiga dari yang kamu kira.

Untuk margin 30%, markup-nya harus 42,9% (0,3 ÷ 0,7). Di omzet Rp50 juta sebulan, selisih ini lebih dari Rp3 juta.

04. Kalkulator markup — hitung punyamu di sini

Isi modal dan harga jual, atau isi modal dan markup yang kamu mau — sisanya dihitung otomatis.

Isi modal, lalu isi harga jual atau markup % — salah satu saja.

05. Contoh markup untuk usaha kecil

Tiga jenis usaha, angka Rupiah beneran, semuanya dihitung sampai selesai.

a. Toko sembako — beras 5 kg

Modal (harga tebus)Rp60.000
Harga jualRp75.000
Markup nominalRp15.000
Markup persen15.000 ÷ 60.000 = 25%
Margin persen15.000 ÷ 75.000 = 20%

b. Warung makan — satu porsi ayam geprek

Di warung, modalnya bukan harga beli satu barang, tapi HPP per porsi — bahan, gas, dan upah masak dibagi jumlah porsi. Misalnya HPP-nya Rp9.680 per porsi.

HPP per porsiRp9.680
Harga di menuRp18.000
Markup nominalRp8.320
Markup persen8.320 ÷ 9.680 = 86%
Margin persen8.320 ÷ 18.000 = 46%

Markup 86% kelihatan besar, tapi dari Rp8.320 itu masih harus keluar sewa, listrik, dan gaji — dan porsi yang basi tidak menghasilkan apa-apa. Markup tinggi di usaha makanan itu normal, bukan tanda kamu kemahalan. Berapa porsi yang harus laku supaya sewa dan gaji itu tertutup? Cek BEP-mu — di contoh warung makan yang sama, jawabannya 638 porsi sebulan.

c. Toko elektronik — kipas angin

ModalRp180.000
Harga jualRp225.000
Markup nominalRp45.000
Markup persen45.000 ÷ 180.000 = 25%
Margin persen45.000 ÷ 225.000 = 20%

Perhatikan: markup 25% di beras dan di kipas angin menghasilkan margin yang sama, 20% — tapi Rupiah-nya beda tiga kali lipat. Persentase menentukan harga; Rupiah yang membayar sewa.

06. Markup dihitung dari HPP, bukan cuma dari harga beli

Ini kesalahan yang paling mahal, dan paling sering. Modal sebuah barang bukan cuma angka di nota supplier.

Kalau kamu beli 10 dus mie seharga Rp600.000 dan ongkos angkutnya Rp30.000, modal per dus bukan Rp60.000 — tapi Rp63.000. Markup 25% dari Rp60.000 memberi harga Rp75.000; padahal dari modal yang benar (Rp63.000) markup 25% seharusnya Rp78.750. Selisih Rp3.750 per dus itu untung yang hilang tanpa kamu sadari.

Yang ikut masuk modal barang (HPP): harga beli, ongkos angkut dari supplier, dan kemasan yang ikut terjual. Yang tidak masuk: sewa toko, gaji kasir, dan listrik — itu biaya menjalankan usaha (istilah akuntansinya: biaya operasional). Biaya ini dibayar dari markup, bukan jadi bagian modalnya.

💡 Urutannya begini

HPP → markup → harga jual. Hitung HPP-nya dulu sampai benar, baru tempelkan markup. Kalau HPP-nya salah, markup seberapa pun tidak akan menyelamatkan harga jualmu. Cara menghitungnya ada di panduan cara menghitung HPP.

07. Berapa markup yang wajar?

Jawaban jujurnya: tidak ada satu angka yang benar untuk semua usaha. Siapa pun yang memberi kamu satu persentase ajaib tanpa tanya jualanmu apa, sedang menebak.

Yang lebih berguna adalah tahu apa yang menentukan markup-mu:

FaktorArahnyaKenapa
Perputaran barangCepat laku → markup lebih kecilUntung kecil dikali banyak transaksi tetap besar. Sembako begini.
Biaya operasionalSewa & gaji besar → markup lebih besarMarkup yang harus menutupnya. Toko di mal beda dengan toko rumahan.
Risiko rusak / basiMudah rusak → markup lebih besarYang laku harus menutup yang terbuang.
PersainganBanyak pesaing → markup tertekanHarga jadi mudah dibandingkan pembeli.
Nilai tambahmuAntar, pasang, garansi → markup lebih besarPembeli membayar layanannya, bukan cuma barangnya.

Cara paling sehat memakainya: bandingkan markup-mu dengan dirimu sendiri bulan lalu, bukan dengan angka dari internet. Kalau markup rata-ratamu turun tiga bulan berturut-turut sementara biaya naik, itu sinyal yang jauh lebih berguna daripada tahu “rata-rata industri”.

Satu patokan yang aman: markup-mu minimal harus menutup biaya operasional-mu. Kalau sewa, listrik, dan gaji sebulan Rp9 juta dan laba kotormu Rp7 juta, markup-mu terlalu kecil — berapa pun angka persentasenya.

08. Markup harga apakah boleh?

Menaikkan harga di atas modal adalah cara kerja normal semua usaha dagang — itu yang membayar sewa, gaji, dan waktumu. Tanpa markup, tidak ada usaha yang bisa jalan.

Yang membuat kata ini terasa negatif adalah pemakaian lain: markup anggaran, yaitu menggelembungkan harga dalam pengadaan atau anggaran. Itu konteks yang sama sekali berbeda dari menentukan harga jual di tokomu sendiri.

⚠️ Yang perlu kamu cek sendiri

Harga jual umumnya ditentukan penjual, tapi sebagian barang punya aturan harga sendiri — misalnya komoditas tertentu, obat, atau barang bersubsidi. Kalau jualanmu termasuk kategori yang diatur, periksa ketentuan yang berlaku untuk kategori itu sebelum menetapkan harga. Halaman ini menjelaskan cara menghitung, bukan nasihat hukum.

09. Kesalahan umum saat menentukan markup

KesalahanAkibatnyaPerbaikannya
Markup dihitung dari harga jualHarga jual selalu kekecilanBagi dengan modal, bukan harga jual
Modal cuma harga di notaOngkos angkut & kemasan tidak tertutupPakai HPP, bukan harga beli
Markup dikira untung bersihMerasa untung padahal rugiKurangi dulu sewa, gaji, listrik
Satu markup untuk semua barangBarang lambat laku menggerogotiBedakan per kategori
Markup tidak pernah ditinjauHarga supplier naik, harga jual tetapCek tiap kali harga beli bergerak
Diskon tanpa hitung ulangDiskon 20% bisa menghabiskan seluruh markupHitung markup setelah diskon

Yang terakhir itu paling sering luput. Barang bermarkup 25% yang kamu diskon 20% menyisakan markup tinggal sekitar 0% — kamu jualan ramai tanpa untung sama sekali.

10. Cara memantau markup tanpa hitung manual

Menghitung markup satu barang gampang. Yang susah adalah menjaganya tetap benar untuk ratusan barang, saat harga supplier berubah tiap bulan dan kamu sedang melayani pembeli.

Cara manualnya tetap sah, dan banyak yang menjalankannya bertahun-tahun: catat harga beli tiap barang di satu buku atau spreadsheet, tulis harga jualnya di sebelahnya, lalu tinjau ulang tiap kali ada kiriman baru dari supplier. Batasnya kelihatan begitu barangmu bertambah banyak — kamu jadi tahu markup barang yang kamu ingat, dan tidak tahu markup barang yang tidak kamu ingat. Biasanya justru yang tidak diingat itu yang diam-diam merugi.

Di titik itu, yang menolong bukan rumus baru, tapi pencatatan yang jalan sendiri: harga beli masuk waktu barang datang, harga jual tercatat waktu barang laku, dan laba kotor per barang tersusun tanpa kamu hitung ulang. Software akuntansi dan aplikasi kasir yang menyatu mengerjakan bagian itu — penjualan langsung tercatat, stok terlacak, dan laporan laba ruginya tersusun otomatis, jadi markup-mu bisa kamu periksa kapan saja, bukan cuma waktu sempat.

Pertanyaan yang Sering Ditanya (FAQ)

Apa itu mark up dan contohnya?

Markup adalah tambahan yang kamu pasang di atas modal supaya jadi harga jual. Contohnya: barang yang kamu tebus Rp60.000 lalu dijual Rp75.000 punya markup Rp15.000, atau 25% dari modal. Penjelasan lengkapnya di bagian 01.

Apa bedanya mark up dan margin?

Markup dibagi modal, margin dibagi harga jual. Transaksi yang sama memberi dua angka berbeda: modal Rp60.000 dijual Rp75.000 itu markup 25% tapi margin 20%. Tabel perbandingan dan konversinya ada di bagian 03.

Bagaimana cara menghitung mark up?

Kurangi harga jual dengan modal, lalu bagi hasilnya dengan modal — bukan dengan harga jual. Contoh: (Rp75.000 − Rp60.000) ÷ Rp60.000 = 25%. Langkahnya satu per satu ada di bagian 02, dan kamu bisa langsung mencobanya di kalkulator.

Mark up harga apakah boleh?

Menaikkan harga di atas modal adalah cara kerja normal semua usaha dagang — markup itulah yang membayar sewa, listrik, gaji, dan waktumu. Yang membuat katanya terdengar negatif adalah pemakaian lain, yaitu markup anggaran dalam konteks pengadaan, dan itu hal yang berbeda. Catatan: sebagian barang punya aturan harga sendiri (misalnya komoditas tertentu, obat, atau barang bersubsidi), jadi periksa ketentuan yang berlaku untuk kategori jualanmu.

Apakah markup sama dengan untung?

Tidak. Markup adalah untung kotor — belum dipotong sewa, gaji, listrik, dan biaya menjalankan usaha lainnya. Barang bermarkup Rp15.000 tidak berarti kamu membawa pulang Rp15.000. Untung bersihmu baru kelihatan di laporan laba rugi.

Kenapa markup saya kelihatan besar tapi uang tetap habis?

Tiga penyebab yang paling sering. Satu: markup dikira untung bersih — padahal sewa, gaji, dan listrik belum dipotong. Dua: modalnya dihitung terlalu rendah karena ongkos angkut dan kemasan tidak ikut masuk. Tiga: uangnya sedang berubah bentuk jadi stok yang belum laku. Kalau markup terlihat sehat tapi kas selalu tipis, biasanya stoknya kebanyakan.

Bagaimana menentukan markup kalau saya sering kasih diskon?

Hitung markup-nya setelah diskon, bukan sebelum. Ini yang paling sering luput: barang bermarkup 25% yang kamu diskon 20% menyisakan markup mendekati nol — ramai pembeli, tapi tidak ada untung yang tersisa. Kalau diskon sudah jadi kebiasaan, pasang markup awalnya dengan memperhitungkan diskon itu sejak awal.

Mark up atau markup, mana penulisan yang benar?

Keduanya dipakai dan dimengerti. Dalam bahasa Inggris aslinya markup ditulis satu kata sebagai kata benda, sedangkan mark up dua kata sebagai kata kerja. Di percakapan usaha sehari-hari di Indonesia keduanya berarti hal yang sama, jadi tidak perlu kamu risaukan.

Biar markup tiap barang nggak lagi kira-kira

Harga beli tercatat waktu barang datang, penjualan tercatat waktu barang laku, dan laba kotor per barang tersusun sendiri — bisa kamu buka dari HP kapan saja, tanpa hitung ulang dan tanpa konsultan.

Niagawan — software akuntansi & kasir untuk usaha kecil.
Beranda
Disclaimer: Informasi di halaman ini hanya untuk referensi umum, bukan nasihat akuntansi, pajak, atau keuangan. Kami berusaha menjaga informasi tetap akurat dan terkini, namun tidak menjamin keakuratannya.

© 2026 Niagawan. All rights reserved.